Tampilkan postingan dengan label Otomotif. Tampilkan semua postingan
0 comment
Minggu, 08 Juni 2014
Satu lagi yang menurut Raymond banyak orang salah kaprah, yakni ban tubeless tidak bisa bocor. Yang benar adalah ban tubeless tidak langsung kempes kalau terkena "ranjau". Sebaiknya langsung dibawa ke tukang tambal ban.
Berikut beberapa tips untuk membantu Anda memilih, pakai tubeless atau tidak:
1. Ban tubeless lebih keras dibanding ban biasa karena struktur lapisan karet lebih tebal dan padat. Jika Anda sering melewati jalan rusak atau tidak rata, lebih baik menggunakan ban biasa. Memaksa pakai tubeless justru dalam jangka waktu tertentu, pelek dan ban cepat rusak karena benturan. ”Lihat motocross, mana ada yang pakai ban pacul tubeless?” sambar Raymond.
2. Ban tubeless lebih cocok dipakai di perkotaan dengan jalan mulus. Untuk bermanuver atau menikung, ban ini lebih ”nge-grip” dan stabil pada kecepatan tinggi. Beda dengan ban biasa yang enak dipakai pada jalanan padat dan macet yang butuh selap-selip.
3. Ban tubeless hanya bisa dipasangkan untuk pelek racing, lebih cocok lagi peleknya butuh ban tapak lebar. Pelek jari-jari hanya bisa untuk ban biasa.
4. Lihat juga jenis sepeda motor. Bebek atau skutik sebenarnya lebih cocok menggunakan ban biasa, karena bobot ban tubeless akan jauh mengurangi performa. Beda dengan sepeda motor sport yang tenaganya sudah jauh lebih besar.
5. Pertimbangkan harga. Kalau tidak terlalu menjadi kebutuhan, ban tubeless yang lebih mahal ketimbang ban biasa lebih baik dihindari. Karena menggunakan ban biasa pun banyak nilai lebihnya. Rata-rata, beda harga antara ban biasa dengan tubeless antara 30-50persen. Misalnya ban IRC tube type (biasa) ukuran 70/90-14 Rp 110 ribu, sementara Tubeless dengan ukuran sama dibanderol Rp 155 ribu. Lalu ban Corsa semi-slick ukuran 90/80-17 biasa Rp 156 ribu, tubeless Rp 216 ribu.
Pilihan kini kembali ke Anda. Tidak ada salahnya mencoba ban tubeless. Selain lebih tahan bocor, juga stabil untuk kecepatan tinggi, tapi umurnya lebih pendek karena biasanya menggunakan compound lebih lunak. Ban biasa pun juga oke, selain murah, lebih awet dan lincah, meski harus waspada ketika tiba-tiba ranjau paku menyerang.
0 comment
Sejurus kemudian, bagasi "memuntahkan" sound system bak laci yang menganga. Sedangkan kap mesin mendongak ke atas. Semuanya berubah posisi dengan sistem motorized. Penampilannya rapi dengan pengerjaan detail tak sembarangan.
Pantas, bila juri menobatkan sebagai King of Elegant. "Padahal, konsepnya nggak cuma elegan, tapi juga futuristik sekaligus ekstrem. Jadi ada tiga konsep sekaligus dalam satu mobil," jelas Ocky Zio, pemilik mobil yang asli Yogyakarta itu kepada KompasOtomotif . Menurutnya, pengaplikasian konsep futuristik pada pergerakan pintu yang semua elektrikal, termasuk naik-turun suspensi (air-sus) yang membuat mobil bisa dibuat ceper, atau bisa juga standar.
Ekstremnya, justru pada rombakan total bodi. Uniknya, Ocky tak memercayakan mobilnya digarap di bengkel, tapi ia memanggil mekanik dan modifikator andal ke rumah. Semua dikerjakan atas pengawasannya dan pengerjaan pun tergolong cukup singkat, hanya 11 bulan.
Bagasi Hatchback
Soal penampilan, sebenarnya wajah asli Accord masih gampang dikenali melalui lampu depan-belakang yang masih bawaan pabrik. Dimensinya juga cenderung sama, hanya Ocky menambahkan body kit kustom untuk membuatnya semakin seksi.
Tapi jika diamati, ubahan mendasar dilakukan pada buritan. Tutup bagasi menyatu dengan pilar "C", sehingga ketika dibuka kacanya ikut terangkat. "Biar kayak Celica gitu. Pengin memodifikasi Celica sih, cuma duitnya kurang. Tapi setelah modifikasi jalan, eh malah lebih mahal ketimbang beli Celica," beber Ocky.
Paling susah justru kaki-kaki. Bapak satu anak ini bilang, semua ban dipasang presisi meski menggunakan pelek 22 inci. Karena menggunakan suspensi udara, fender pun bikin baru. Badan membengkak dengan teknik wide body, lebarnya tujuh jari di depan dan empat jari di belakang.
Interior Mewah
Kemewahan semakin terasa ketika menengok kabin. Pemilihan motif jok, lapisan pintu, dashboard, dan atap dengan nuansa kotak-kotak cokelat-krem cukup pintar membangun suasana nyaman. Dengan motif ini, tukang jok dibuat sulit karena harus menganyam lapisan kulit satu persatu bagian. Beberapa monitor tertancap, seperti pada dashboard dan sandaran kepala jok depan.
Ocky lantas menambahkan mini bar di jok baris kedua dengan memberikan banyak tempat menyimpan botol minuman serta gelas, terutama di tengah-tengah penumpang. Lalu, semuanya dikombinasikan dengan perangkat audi lengap yang terpasang pada bagian belakang.
Mesin menjadi sentuhan terakhirnya dengan penambahan berbagai peranti HKS, mulai filter, turbo, dan pendongkrak tenaga lainnya. Dengan tampang seperti ini, Rp 300 juta lebih harus keluar dari kantong pribadi Ocky. ”Tapi saya puas, dan itu memang yang dicari modifikator,” tuturnya. (LEO/LI)
Sumber: Kompas



