Tampilkan postingan dengan label Jawa. Tampilkan semua postingan
0 comment
Minggu, 08 Juni 2014
Dua anak balita itu adalah Aira (3) dan Aulia (1,9), sedangkan sang ayah bernama Sutrisno (33). Mereka adalah warga Kelurahan Karangketug, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Ketiganya mengalami luka bakar lebih dari 60 persen akibat peristiwa ini.
Kejadian bermula ketika kedua anak balita tersebut bermain di dekat sebuah mobil yang diparkir di dalam gudang penggergajian kayu milik Agus. Saat itu, Sutrisno sedang mengemas limbah kayu.
Belum diketahui bagaimana awal mulanya, percikan api dari pembakaran serbuk kayu menyambar tangki bahan bakar mobil. Tak lama, mobil pikap bernomor polisi L 7094 BN yang biasa dipakai mengangkut kayu ke penggergajian tersebut terbakar.
"Api langsung menyambar anak-anak, sementara ayahnya yang mencoba menolong juga kebakar," ujar Astutik, nenek kedua anak balita tersebut. Mengetahui kejadian itu, warga sekitar lokasi langsung menolong korban dan membawa mereka ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD R Soedarsono di Kota Pasuruan.
Dari keterangan petugas rumah sakit, Aira mengalami luka bakar hampir 90 persen. Hampir sekujur tubuhnya melepuh karena bajunya terbakar habis. Sementara itu, Sutrisno dan Aulia mengalami luka bakar di kedua lengan.
"Aira harus dirujuk ke RSUD Saiful Anwar di Malang karena lukanya cukup serius," ujar salah satu perawat. Hingga Selasa malam, petugas dari Polsek Gadingrejo masih kesulitan melakukan penyelidikan karena gudang dikunci oleh pemiliknya.
Sumber: Kompas
0 comment
"Untuk kelompok Poso, mereka terkait dengan pengiriman orang-orang ke daerah Poso," kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Ronie Franky Sompie, saat memberikan keterangan di Mabes Polri, Jakarta, Senin (22/7/2013).
Tidak hanya kelompok Poso, menurut Ronie, keempat terduga teroris juga memiliki keterkaitan dengan berbagai aksi terorisme di sejumlah daerah, seperti di Medan, Sumatera Utara, dan Bali.
"Mereka diduga merupakan pencari dana untuk kasus di Medan dan Bali," katanya singkat.
Seperti diberitakan, Tim Densus 88 Antiteror Mabes Polri menyergap empat terduga teroris di Tulungagung, Jawa Timur, sekira pukul 08.45 WIB. Pada saat penyergapan berlangsung, salah seorang terduga teroris bernama Dayah alias Kim secara tiba-tiba mengeluarkan senjata yang mengakibatkan kontak senjata dengan petugas yang akan mengamankan. Akibat kontak senjata itu, selain Dayah, salah seorang terduga teroris lainnya, Rizal, tewas ditembak petugas.
Dari tangan keempat orang tersebut, petugas mengamankan sepucuk senjata api jenis Revolver dan sebuah tas berisi bom. Saat ini, kedua barang tersebut bersama dua terduga teroris lainnya yang masih hidup diamankan oleh petugas untuk dimintai keterangan. Sementara itu, polisi masih belum mengumumkan identitas terduga teroris yang masih hidup. (LEO/LI)
Sumber: Kompas
0 comment
"Intinya begini, dengan mempelajari surat tiga, tulisan dua, tulisan satu dan foto-foto almarhum itu, patut diduga Kompol A dan almarhum sudah melakukan hubungan di luar batas kewajaran sebagai teman. Padahal kan, Kompol A itu jelas-jelas sudah punya istri," ujar Sutarno, Selasa (13/8/2013).
Sebelumnya Sutarno memaparkan, dalam penggeledahan di kamar kos Sisca di Jalan Setra Indah, Kecamatan Sukajadi, Bandung, Jawa Barat, Satreskrim Polrestabes Bandung menemukan barang bukti berupa tulisan berupa surat dan foto-foto Kompol Albertus bersama Sisca.
"Diduga keduanya saling membalas surat, kita temukan suratnya berikut foto," kata Sutarno.
Dalam surat milik Kompol A yang dilayangkan kepada Sisca, tidak tertera tanggal kapan dibuatnya. "Jadi begini, surat yang petama itu memang saya cari pas penggeledahan itu tidak ada tanggalnya, harinya pun engga ada," katanya.
"Tapi kita memang menemukan surat yang diduga dibuat oleh Kompol A, sebagai jawaban dari surat Sisca. Surat itu memang tidak terlalu bagus, surat yang diduga dibuat oleh Kompol A itu seperti konteks awal, baru draf. Kayaknya, surat itu dibuat dalam surat rapi, setelah rapi baru dikirim ke almarhum," kata Sutarno.
Selain itu, polisi juga menemukan surat-surat jawaban yang dikirim Sisca kepada Kompol Albertus. Surat dari almarhum ini tertera tanggalnya, 3 Juni 2012. "Diperkirakan korban membuat surat sebelum bulan Juni, mungkin bulan Mei, atau bulan April atau mungkin bulan Juni, tanggalnya awal," katanya.
Sutarno mengaku heran setelah membaca surat-surat dari masing-masing pihak, ditambah foto-foto yang ditemukan. Dari situlah muncul dugaan kuat bahwa hubungan keduanya sudah melewati batas kewajaran.
0 comment
Sabtu, 07 Juni 2014
Kejadian bermula saat mobil boks bernopol B 9063 VO yang melaju dari arah barat menuju Rembang, mencoba mendahului truk trailer bernopol H 1869 EF yang dikemudikan Abidin, warga Kabupaten Rembang. Pada saat bersamaan, muncul mobil minibus VW Combi bernopol AB 1836 QZ dari arah berlawanan yang melaju dari arah Rembang menuju Juwana.
Jarak antara mobil boks dengan minibus VW terlalu dekat sehingga tabrakan tidak terhindarkan. "Sopir truk trailer secara spontan membanting stir ke kiri dan menabrak mobil truk trailer bernopol N 8624 UR yang sedang parkir berlawanan arah," kata Kasat Lantas Polres Pati AKP Ifan Hariat Taufik.
Setelah menabrak truk trailer yang parkir, truk trailer H 1869 EF kemudian juga menabrak warung yang ada di tepi kiri jalan. Akibat tabrakan tersebut, empat orang meninggal dunia di lokasi kejadian. Tiga di antara korban tewas adalah sopir minibus VW Combi yang belum di ketahui identitasnya dan dua penumpangnya, yakni Fathul Huda (19) dan Salim (18).
Tiga korban dari mobil VW Combi adalah warga Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kudus, Jawa Tengah. Satu korban tewas yang lain adalah sopir truk boks bernopol B 9063 VO yang identitasnya juga belum diketahui.(JRTR)


